4 Gunung Sindoro 5. Gunung Slamet a. Bambangan b. Baturaden Jawa Barat : 1. Gunung Papandayan 2. Gunung Haruman 3. Gunung Burangrang a. Pos Komando b. Legok Haji 4. Gunung Bukit Tunggul Pasirangling-Suntenjaya 5. Gunung Gede Pangrango a. Gunung Putri b. Cibodas c. Selabintana d. Geger bentang 6. Gunung Salak a. Cidahu b. Curug Nangka 7. Gunung
Facts Photos Bagging It! Burangrang is the westernmost of the 2000-metre high peaks north of Bandung. Along with Tangkuban Parahu and Bukittunggul it is the remnants of the ancient Mount Sunda. Burangrang makes an excellent ridge walk and is a very popular mountain given its proximity to the city of Bandung. It is also rather challenging in places. There are two main routes up onto the ridge – from the east at the col known as Pintu Angin and from the south at the tiny village of Legok Haji. At over 1,500m above sea level, Pintu Angin separates Burangrang from neighbouring Tangkuban Parahu. There is a stony track leading from Parompong all the way up to the col and beyond to the beautiful lake of Situ Lembang. Unfortunately this area is used for military exercises and is often closed. Even hikers wishing to climb Burangrang are now asked to request permission’ from Indonesia Special Forces in advance. Therefore it is much better to climb from the south at Legok Haji and either descend the same way or simply claim ignorance at the small building when you descend to Pintu Angin! To get to Legok Haji 1,235m, it is best to take an ojek for the short 3 or 4 km trip from Cisarua. The trail starts at the end of the village track and leads up to the right past some graves and up along a delightful grassy ridge offering a fabulous panorama in all directions. The friendly villagers will point you in the direction if you are lost. After less than an hour you will enter the forest at about 1,450m and encounter a few steep, muddy sections of trail where the use of your hands is required. There are a couple of flattish areas suitable for camping Pos 1 – 1,618m, and Pos 2 – 1,742m but there isn’t much point considering this trail leads directly up to the highest point of the Burangrang ridge and you can be at the top in 2-3 hours total. Just before the summit is an area of recent landslide. Take care both here and on the summit ridge itself as the drops are often several hundred metres! Finally you will reach the grassy top crowned with one of the largest summit pillars in Indonesia. The panorama is superb – Kawah Sunda Purba the ancient Mount Sunda crater to the north, the lake of Situ Lembang visible to the Northeast and the outskirts of the city of Bandung to the south. There is enough space for one tent next to the summit pillar but a better place is just three minutes walk east along the ridge just before a small memorial, presumably to a local climber. This second spot is large enough for 2 or 3 tents and offers even better views of Situ Lembang lake. You can return to Legok Haji in two hours or if you’re feeling adventurous you can explore the eastern part of Burangrang ridge and descend to Pintu Angin. However do be aware that getting an ojek from Pintu Angin is pretty much impossible and you would have to walk for another hour to the ojek post at the end of the stony track in Parompong. After the small memorial stone the ridge descends steeply and suddenly and there is even a short section where you can use a thin rope to help you. The views here are fabulous – a sheer drop on the northern side offering excellent views of other minor peaks that are part of the same mountain range. Beyond the rope section the trail ascends to Burangrang’s eastern top approx. 2,033m, although the main trail actually circumnavigates it. After the eastern top, the trail is steep and muddy as you head down via numerous minor tops to eventually find yourself in pine woodland 1,606m at the base of the mountain. From here head out to the stony track at Pintu Angin 1,533m and walk down towards Parompong where you will be able to find an ojek back into Bandung. Bagging information by Daniel Quinn November 2011 Trail Map For a high quality PDF version of this and other trail maps, please download from our Trail Maps page. Local Accommodation Practicalities Getting there For Legok Haji, head from Bandung to Cimahi and turn up the hillside towards Cisarua. From Cisarua take an ojek or drive along the final 4km of village tracks to Legok Haji difficult to find parking spaces here. For Pintu Angin, drive from Bandung to Parompong and the up the stony track which leads all the way to Situ Lembang lake. Angkots are also available to both Cisarua and and GPS Tracks Want a PDF version for your phone? Looking for a guide? Need GPS tracks and waypoints? Gunung Burangrang information pack can be downloaded planning assistance Would you like Gunung Bagging to personally help you in arranging your whole trip? Please contact us You are supposed to request permission in advance if climbing from Pintu Angin. No permits or official permission required if you hike from Legok Haji so it’s a much better starting sources No water sources found – take enough with you. Local Average Monthly Rainfall mm Location Links and References Wikipedia Indonesia
GunungBismo ini cocok kamu kunjungi untuk sekedar berpetualang ataupun menghindari antrean panjang di Gunung Prau. Karena Gunung Prau dan Bismo sama-sama punya pemandangan Gunung Sindoro dan Sumbing. Untuk sampai ke Puncak Gunung Bismo, terdapat beberapa jalur yang bisa dilalui. Namun kali ini penulis akan membahas jalur pendakian Silandak.
27 June 2020 0721 dok. Instagram/nurrizqi_28 — Jalur pendakian Gunung Burangrang via Legok Haji resmi dibuka kembali mulai Jumat, 26 Juni 2020. Gunung yang berada di Bandung Utara, Jawa Barat dengan ketinggian meter di atas permukaan laut mdpl itupun menerapkan persyaratan yang harus ditaati oleh para calon pendaki. Mengutip dari akun instagram mt_burangrang, berikut ini beberapa persyaratan yang harus ditaati dan dilengkapi untuk mendaki Gunung Burangrang via Legok Haji di masa kenormalan baru. 1. Wajib memakai masker, 2. Membawa hand sanitizer masing-masing, 3. Membawa surat kesehatan dari Puskesmas, 4. Tidak sedang flu, batuk atau demam, 5. Alat makan dan minum perorangan, 6. Membawa kartu identitas 1 orang 1 identitas, 7. Setiap 1 regu berisi 10 orang, dan jika lebih dari 20 orang diberangkatkan 2 kloter atau lebih, 8. Tenda kapasitas 4 orang untuk 2 orang, 9. Untuk menginap di Basecamp akan dibatasi, 10. Perlengkapan pendakian dan prosedur Basecamp yang sudah ada tetap berjalan. MC/PC
Burangrangsendiri seringkali dipakai untuk latihan perang maupun survival pasukan Kopassus. Jangan heran jika di tengah hutan belantara ini, kerap terdengar letusan senjata api dan bom yang bersahutan pada saat-saat tertentu. Nah, di Legok Haji, jangan bayangkan pendakian Burangrang seperti destinasi pendakian pada umumnya.
Adakah yang pernah mendengar nama Gunung Burangrang? Atau mungkin baru tau namanya saja? Gunung satu ini memang jarang terdengar di obrolan para pendaki atau bisa dibilang kurang populer. Tak banyak para pendaki yang datang untuk mendaki Gunung Burangrang atau setidaknya kebanyakan hanya dari kalangan para pengunjung hebat Gunung Sunda Purba sekitar tahun silam menghasilkan kaldera yang sangat luas, yang bernama cekungan Bandung. Tepi-tepi kaldera inilah yang kemudian menumbuhkan gunung-gunung baru, seperti Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Burangrang, Gunung Bukit Tunggul, Gunung Manglayang dan masih banyak yang lainnya. Gunung Burangrang tidak kalah bagus dengan gunung-gunung lainnya lho. Apalagi jika menilik hingga ke asal usulnya, gunung api mati yang berada di perbatasan kabupaten Bandung Barat dan kabupaten Purwakarta ini sangat menarik sekali. Kawan-kawan pasti tahu dong Gunung Tangkuban Parahu? Nah Gunung Burangrang ini saudara kandungnya. Mereka sama-sama terbentuk hasil dari letusan Gunung Sunda Purba, gunung raksasa di jaman prasejarah yang menjadi atap bumi parahyangan. Konon Gunung Sunda Purba memiliki ketinggian lebih dari 4000 mdpl dan menjadi gunung paling tinggi di Jawa kala itu. Versi lain dari cerita leluhur, Gunung Burangrang sering dikaitkan dengan cerita legenda Sangkuriang. Layaknya Gunung Tangkuban perahu, Gunung Burangrang ini konon katanya adalah bagian ranting pohon yang dilempar Sangkuring. Rangrang sendiri dalam bahasa sunda berarti ranting. Mitos ini semakin dikuatkan dengan bentuk dari Gunung Burangrang dari kejauhan yang seperti gerigi. Selain Burangrang dan Tangkuban Parahu ada lagi satu gunung yang juga sering dikaitkan dengan legenda Sangkuriang, yaitu Bukit Tunggul, Konon katanya terbentuk dari tunggulnya atau akar dari pohon yang digunakan Sangkuriang dalam membuat perahu. Wallahu alam. Terlepas dari pamornya yang kurang terkenal, tapi cukup menarik bukan gunung yang satu ini? Selanjutnya saya akan coba ulas mengenai info pendakian Gunung Burangrang yang mungkin bisa memberikan informasi untuk kawan-kawan yang hendak kesana. Ulasan ini saya rangkum sesuai pengalaman saya mendaki Gunung Burangrang beberapa waktu lalu. Baca Juga Info Pendakian Gunung Gede via Gunung Putri Pendakian Gunung Burangrang via Legok Haji Pendakian saya lakukan sekitar awal bulan April. Saya dan kawan berangkat menuju salah satu basecamp pendakian Gunung Burangrang yang bernama basecamp Legok Haji. Sebenarnya ada beberapa basecamp untuk pendakian Gunung Burangrang selain Legok Haji, yaitu ada Tanjakan Mentari, Pos Komando, dan Pangheotan. Semuanya berlokasi di Bandung Barat. Tapi Legok Haji menjadi basecamp Burangrang yang paling populer dan sering menjadi pilihan para pendaki. Bacecamp Legok Haji berlokasi di kp. nyalingung, Ds. Tugumukti, Kec. Cisarua, Kab. Bandung Barat. Untuk menuju kesana cukup mudah dan tidak membingungkan. Dari kota Bandung menuju arah Lembang, sebelum pusat kota Lembang berbelok ke arah Cisarua. Set saja di maps "Burangrang via Legok Haji atau Curug Cipalasari" cukup akurat kok. Menjelang sampai lokasipun ada banyak petunjuk arah, sehingga sangat memudahkan. Saya saja yang pertama kali kesana gak nyasar kok. Ketika sudah memasuki perkampungan, yaitu kp. Nyalindung, jalan semakin menyempit dan sedikit rusak. Apalagi saat hampir sampai lokasi jalan berupa gang kecil. Jadi saya sangat merekomendasikan untuk datang menggunakan motor saja. Jika pakai mobil, mungkin harus parkir agak jauh dan berjalan kaki cukup jauh untuk sampai di lokasi basecamp. Tiba saatnya motor yang saya kendarai memasuki gang yang hanya cukup 1 motor itu. Gang tanah yang kalau hujan dijamin becek dan licin. Tinggal sedikit lagi dari pintu masuk gang, saya sampai di gapura selamat datang. Gapura Selamat Datang Gambar Selain untuk basecamp pendakian, lokasi ini juga sebagai pintu masuk menuju salah satu air terjun di kaki Gunung Burangrang, yaitu Curug Cipalasari. Di sekitar basecamp juga terdapat camping ground yang digunakan untuk berkemah santai tanpa harus mendaki. Biasanya kalau akhir pekan selalu penuh oleh pengunjung. Begitupun saya yang saat itu memilih berkemah di campground dekat basecamp untuk selanjutnya melakukan pendakian tektok pergi-pulang ke Gunung Burangrang. Kenapa begitu? Alasannya ya karena lagi pengen aja, mendaki tanpa membawa beban. Apalagi katanya trek Gunung Burangrang ini lumayan susah. Ya, keuntungan dari mendaki tektok atau PP yaitu kita bisa meminimalisir barang bawaan, salah satunya karena tidak perlu membawa peralatan berkemah seperti tenda, sleeping bag, logistik yang biasanya menuhin dan beratin carrier. Kita cukup mendaki dengan membawa keperluan yang penting saja seperti air mineral, makanan ringan, jas hujan, dan lainnya. Simple bukan? Meskipun begitu, untuk sebagian orang mungkin kurang suka melakukan pendakian seperti ini. Alasannya mungkin karena merasa kurang afdol aja. Misalnya, jadi kurang merasakan sensasi mendaki, atau jadi melewatkan moment sunset dan sunrise dari puncak gunung kalau cuaca mendukung. Kembali lagi ke selera masing-masing. Saya juga sebenarnya baru kali ini mendaki tektok, biasanya selalu ingin camp di atas gunung. Oh iya, untuk simaksi atau HTM pendakian Gunung Burangrang ini sangat terjangkau ya, yakni cukup membayar saja per orangnya. Area camping ground dekat basecamp Legok Haji Memulai Pendakian Tektok ke Gunung Burangrang, Treknya Cabe Rawit! Subuh itu sekitar pukul 430 pagi, saya dan teman terbangun dari tidur. Suhu rasanya tidak terlalu dingin, tapi setelah lepas sleeping bag ternyata cukup menusuk juga. Meski agak mager, kami paksakan menuju toilet satu-satunya yang ada di camping ground sekitar basecamp Legok Haji itu. Kami segera bersih-bersih, cuci muka, sikat gigi dan ambil wudhu. Selesai shalat dan berganti pakaian, kami lanjut siap-siap untuk segera memulai pendakian tektok ke puncak Gunung Burangrang. Tidak banyak yang perlu di siapkan, kami hanya membawa 1 daypack yang berisi air, snack, dan jas hujan. Begitulah enaknya tektok, gak perlu bawa macem-macem. Kamipun memulai pendakian sekitar pukul 616 pagi. Perjalanan dari Campground ke Pos 1 Kami berencana untuk mendaki santai saja ke puncak Burangrang, bukan mau summit ngejar sunrise. Hehe. Apalagi udah dapet bocoran katanya beberapa hari ini dipuncak selalu berkabut, karena kebetulan masih musim hujan. Jadi santai aja deh. Berangkat agak siang juga gak apa-apa. Lokasi campground tempat kami memulai pendakian berada di ketinggian ± 1300 mdpl. Trekking dimulai dengan menaiki anak tangga. Lumayan panjang tapi masih oke lah, apalagi kaki masih seger sehingga tidak perlu waktu lama untuk sampai ke ujung tangga. Lepas melewati anak tangga, jalanan masih manusiawi. Meski menanjak dengan vegetasi semak belukar, tapi pijakan masih jelas. Setelah berjalan ± 180 meter, sampailah kami di POS 1 sekitar pukul 0628. Hanya perlu 12 menit saja untuk sampai ke POS 1 di ketinggian ± 1420 mdpl ini. POS 1 Gunung Burangrang via Legok Haji POS 1 ini berupa tanah datar yang tidak terlalu luas. Hanya terdapat satu tempat duduk kayu yang bisa dijadikan tempat istirahat oleh para pendaki. Tidak ada lahan untuk mendirikan tenda di pos ini. Dari POS 1 terlihat pemandangan kota di kejauhan berpadu dengan matahari terbit dan kabut-kabut tipis pagi itu. Syahdunya... POS 1 ke POS 2 Karena belum terlalu capek, kami tidak istirahat di POS 1 ini dan langsung saja melanjutkan perjalanan ke POS 2. Trek dari pos 1 masih terus menanjak dengan elevasi 30-40 derajat. Dari sini kita sudah memasuki pintu rimba atau batas hutan. Jarak dari POS 1 ke POS 2 ±200 meter dengan hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit. Pukul 0643 kami sampai di POS 2 ketinggian ± 1500 mdpl. Baca Juga Panduan Lengkap Berkemah di Gunung Bromo POS 2 Gunung Burangrang via Legok Haji Sama halnya seperti POS 1, POS 2 ini berupa lahan datar yang sempit sehingga tidak dapat dipakai untuk mendirikan kemah atau tenda. POS 2 ke POS 3 Dari awal trekking pun rasanya belum menemukan bonus jalur landai, tapi tanjakan menuju POS 3 ini sudah makin gak karuan. Kemiringan sudah 60-80 derajat dipadukan dengan jalanan licin serta pohon tumbang membuat kaki sulit menemukan pijakan yang pas. Tidak jarang kami harus jongkok dan merangkak untuk menaklukan tanjakan demi tanjakan di jalur perlu 25 menit untuk kami sampai di POS 3. Sekitar pukul 0708 sampailah kami di POS 3 dengan ketinggian ± 1614 mdpl. POS 3 berupa lahan kosong yang tidak terlalu luas, paling tidak cukup menampung 2 tenda saja. POS 3 ke POS 4 Banyak orang bilang kalau jalur Legok Haji ini adalah jalur ngetrek. Maksudnya mungkin jalur cepat, jadi wajar kalau di sepanjang jalur akan berjumpa tanjakan terjal yang membuat jidat ketemu lutut dan hampir tidak ada jalur landainya. Sekilas jalurnya mirip jalur ke Gunung Salak, bedanya yang ini jarak tempuhnya lebih pendek. Soal kekejaman jalurnya, kayanya sama deh. Dari POS 3 ke POS 4 ini jalur masih berupa akar-akar tinggi yang perlu dipanjat. Ditambah selepas hujan malam hari menjadikan akar-akar tersebut semakin licin. Perlu setengah jam lebih atau ± 35 menit untuk menjinakan jalur dari POS 3 ke POS 4 ini. Padahal jaraknya hanya kurang dari 500 meter saja. Tapi ya karena itu tadi, treknya gak ada ampun. Akhirnya kamipun tiba di POS 4 sekitar pukul 0743 ketinggian ± 1800 mdpl. Di POS 4 ada lahan datar yang mungkin hanya cukup untuk 2 tenda saja. POS 4 ke Puncak Jika dihitung dari awal pendakian, kami sudah menghabiskan waktu sekitar 1jam 30menit sampai POS 4 ini. Sungguh waktu yang sangat singkat untuk sebuah pendakian. Tapi dengan trek yang begitu, membuat kami sudah cukup kelelahan. Segini tuh gak bawa beban loh. Apalagi kalau bawa carrier yang isinya baju hangat tebel, sleeping bag, tenda, air mineral 2 liter wkwk. Gak tau deh kuat atau engga. Mungkin perlu berjam-jam untuk sampai karena akan lebih banyak istirahatnya. Dari sini sudah bisa disimpulkan ya, meski ketinggiannya hanya 2000-an, tapi Burangrang sepertinya tidak cocok untuk pemula. Sayapun merasa bersalah sudah underestimate ke Burangrang. Padahal guys, gaboleh menilai gunung dari ketinggiannya ya. Hehe. Baca Juga Menikmati Sunrise di Gunung Patuha, Ciwidey, Bandung Trek menuju puncak ini tidak jauh berbeda. Beberapa meter sebelum sampai puncak kita akhirnya menemukan tanah landai. Disini kita sudah masuk batas vegetasi dimana sinar matahari tak lagi tertutup lebatnya hutan. Melihat kanan kiri, kita akan dimanjakan dengan melihat pemandangan Kota Bandung di Selatan dan Purwakarta di Utara dipadukan dengan perbukitan-perbukitan yang mengelilinginya. Namun tetap berhati-hati ya, karena kanan kiri jalur setapak ini adalah jurang yang menganga. Tahap terakhir kita harus melalui trek berbatu yang menanjak untuk akhirnya sampai ke Puncak Burangrang. Kami tiba di Puncak Burangrang sekitar pukul 0837. Artinya pendakian ini menghabiskan waktu total 2jam 20menit. Waktu yg normal namun lumayan cepat, karena pendakian Burangrang sendiri umumnya 3-4 jam. Puncak Gunung Burangrang ini hanya berupa tanah lapang seluas lapangan tenis yang ditandai sebuah tugu. Tak jauh dari tugu terdapat pula sebuah prasasti penanda batas wilayah Bandung Barat dengan Purwakarta. Batas wilayah Bandung dan Purwakarta Bergeser sedikit dari lokasi tugu, terdapat lahan datar yang lumayan luas yang umumnya digunakan para pendaki untuk mendirikan kemah. Paling tidak hanya cukup 15-20 tenda saja. Gak terlalu besar juga sih ya, kalau pengunjung banyak seperti di gunung-gunung lain dijamin engga akan muat. Tapi berhubung ke Burangrang ini masih terbilang jarang, jadi masih aman lah. Jika kebetulan sedang cerah, keindahan Situ Lembang yang konon Ranu Kumbolonya Jawa Barat bisa tampak jelas dari puncak Burangrang. Sayang saat itu cuaca berkabut sehingga hanya bisa menikmati tembok putih. Hehe. Pemandangan Situ Lembang dari Puncak Burangrang jika cerah Gambar Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh saya yang hanya tektok ke Puncak Burangrang. Apalagi karena berkabut banget jadi gak bisa lihat pemandangan apa-apa. Akhirnya hanya istirahat duduk-duduk sambil membuka perbekalan. Meski begitu, gak terlalu kecewa banget sih, mungkin karena sudah dikasih tau saat ngobrol sama bapak penjaga di basecamp kalau puncak mungkin akan berkabut. Jadinya gak berekspektasi gimana-gimana. Nanti lain kali kita coba lagi deh ya, tapi gak tau kapan, mesti nyiapin mental dulu karena treknya cakep. Haha. Baca Juga Sunrise Point Cukul Bandung, Camping hingga Berburu Foto Instagramable Tidak berlama-lama kami di Puncak Burangrang, paling hanya 30 menitan. Selesai ngemil dan dirasa udah agak segeran, kami lanjut perjalanan turun. Ternyata perjalanan turun jaaaauh lebih sulit. Yang biasanya perjalanan turun gunung itu bisa lebih cepat, tidak berlaku saat itu. Menuruni akar-akar yang licin perlu extra hati-hati dan pelan-pelan, supaya ngga kepeleset. Perjalanan turun kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam juga, hampir sama seperti saat naik. Saat turun bertemu dengan banyak pendaki yang hendak naik. Uniknya banyak sekali orang-orang yang sudah berumur yang naik kesana. Kebanyakan sih warga-warga lokal Bandung dan sekitarnya. Katanya sih cuma mau tektok alias pergi-pulang. Tapi salut banget deh sama semangat mereka. Pukul 1130 kami sudah sampai di lokasi camping ground. Tenda kami masih berdiri kokoh disana. Lanjut bersih-bersih dan masak-masak karena sudah laper banget sejak di jalan turun. Hehe. Curug Cipalasari, Air Terjun Kaki Gunung Burangrang Kalau masih cukup tenaga, setelah dari Puncak Burangrang kawan-kawan bisa mampir ke Curug Cipalasari. Lokasinya masih satu area nih, jadi bisa sekalian. Di lokasi camping ground terdapat 2 persimpangan jalan yaitu naik ke atas untuk Puncak Burangrang, dan jalan lurus untuk ke Curug Cipalasari. Dari persimpangan jalan tersebut cukup berjalan kaki sekitar 15 menit saja. Deket kan? Air Terjun yang sangat tinggi namun tidak terlalu deras. Cocok untuk penyegaran setelah naik turun gunung. Meski tidak bisa berenang, namun ada aliran air yang bisa digunakan untuk bermain air. Airnya dingin dan segar banget karena langsung dari mata air pegunungan. Air Terjun Cipalasari Mungkin segitu dulu ya ulasan dari saya mengenai Gunung Burangrang, si miniatur Gunung Salak. Untuk para pendaki pemula seperti saya, tolong jangan jadikan Burangrang sebagai gunung latihan. Haha. Tapi meski begitu jangan ciut dulu, kalian tetap bisa mendaki gunung ini dengan persiapan yang matang. Setidanya olahraga dulu dan memakai perlengkapan yang safety. Dan saran saya usahakan tidak datang di musim hujan, supaya jalur tidak licin dan bisa menikmati pemandangan yang cantik dari atas puncak. Semoga artikel ini bisa membantu bagi kalian yang sedang mencari informasi gunung burangrang terbaru. Selamat mendaki Gunung kecil tidak ramah pemula ini kawan-kawan~
HalYang Harus Diperhatikan Saat Mendaki Gunung Burangrang via Legok Haji Ada beberapa hal yang kami akan bagikan kepada pembaca yang ingin mendaki gunung yang berada di area Cimahi, Bandung dan Purwakarta ini. - Ada 3 Jalur pendakian yang mampu digunakan, yaitu via legok haji, via jalur komando, dan via purwakarta.
sumber gambar denden2353 instagram Gunung Burangrang merupakan salah satu sisa dari hasil letusan besar Gunung Sunda di Zaman Prasejarah. Ketinggian dari Gunung Burangrang mencapai sekitar meter diatas permukaan laut. Gunung ini adalah gunung api mati yang terdapat di Pulau Jawa. Lebih tepatnya letak Gununh Burangrang berada di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung, Jawa ini berada di selatan Gunung Tangkuban Perahu. Untuk menuju ke Gunung Burangrang sebenarnya ada 4 jalur yaitu Legok Haji, Pasir Kuning, Komando, dan Masjid. Namun jalur Komando dan Masjid sudah ditutup dan tidak dipergunakan lagi. Hanya bisa melalui jalur Legok Haji atau Pasir Kuning. Transportasi menuju Gunung Burangrang Untuk menuju Desa Pasirlangu tidak tersedia angkutan umum. Namun ada beberapa angkot yang melayani rute dari Kota Cimahi dan Bandung Barat menuju Sekolah Polisi Negara SPN berdampingan dengan pasar Cisarua. Tempat ini merupakan pemberhentian paling dekat dengan Legok Haji. Setelah sampai di SPN, para pendaki bisa menumpang mobil bak terbuka atau menyewa ojek di sekitar pasar untuk menuju Pasirlangu. Namun jika menggunakan kendaraan pribadi, bisa melewati ruas Jalan Raya Cimahi sebelum kemudian berbelok ke Jalan Kolonel Masturi. Postingan Direkomendasikan Setelah sampai di SPN para pendaki bisa masuk ke jalan pasar dan berbelok ke kanan mengikuti arah menuju jalur Pasirlangu. Pendakian Gunung Burangrang sumber gambar gungun_gunawan49 instagram Basecamp Legok Haji merupakan sebuah warung yang terletak di ketinggian meter diatas permukaan laut. Untuk menuju basecamp ini para pendaki bisa menggunakan kendaraan roda dua, dengan biaya parkir sebesar Rp. per motor. Namun jika para pendaki membawa mobil bisa parkir mobil di rumah warga sebelum memasuki basecamp. Biaya simaksi pendakian para pendaki hanya perlu membayar seikhlasnya saja per orang. Jalur Legok Haji memiliki 4 pos pendakian di sepanjang jalurnya. Dari basecamp kurang lebih 25 meter terdapat percabangan jalur, dimana jalur tersebut jika ke arah kanan akan menuju Curug Cipalasari. Jika menuju ke arah kiri ke jalur pendakian Gunung Burangrang. Setelah berjalan selama 5 menit dari basecamp, para pendaki akan tiba di area Tanah Mati. Tempat tersebut sering di gunakan sebagai perkemahan dengan tanaman hijau di kanan dan kiri area. Kemudian setelah berjalan selama 22 menit, tibalah di pos 1. Di sepanjang jalur pendakian via Legok Haji ini para pendaki tidak akan menemukan shelter. Penanda dari pos 1 ini yang berupa papan kayu dengan bertuliskan pos 1. Jalur menuju pos 1 vegetasi belum tampak rapat dengan trek yang masih landai dan tidak terlalu menanjak. Setelah itu lanjutkan perjalanan menuju pos 2. Untuk menuju pos 2 sudah mulai tampak tanjakan-tanjakan yang ringan. Ciri dari tanjakan Gunung Burangrang memiliki khas yaitu berada diantara akar-akar pepohonan. Di jalur ini vegetasi tanaman sudah nampak rapat dan sudah mulai masuk ke dalam hutan. Waktu tempuh dari pos 1 menuju pos 2 yaitu sekitar 15 menit. Sayangnya tidak terdapat lahan untuk digunakan mendirikan tenda dan beristirahat baik di pos 1 maupun pos 2. Lanjutkan perjalanan menuju pos 3. Waktu tempuh dari pos 2 menuju pos 3 hanya sekitar 30 menit. Mulai dari pos 2 menuju pos 3 menuju pos 4 tidak terlihat pemandangan, hanya ada jalur yang terus menanjak diantara akar-akar pohon. Sebaiknya para pendaki harus lebih berhati-hati karena jalurnya licin. Saat melintasi jalur pendakian terdapat beberapa titik yang rawan sekali terpeleset sebab di perkirakan banyak para pendaki menjadikan jalur tersebut untuk perosotan ketika turun dari puncak gunung. Hal ini menyebabkan jalur tersebut menjadi rusak dan licin. Akibatnya para pendaki yang hendak naik menjadi kesusahan. Sebaiknya para pendaki tidak melakukan perosotan ketika hendak turun dari puncak gunung. Kemudian lanjutkan perjalanan menuju pos 4. Setelah berjalan sekitar 35 menit tibalah para pendaki di pos 4. Pos 4 ini merupakan sebuah area datar namun tempat ini tidak terlalu luas sehingga tidak cocok untuk beristirahat. Tempat ini hanya bisa mendirikan 1 tenda. sumber gambar sidiklsmn instagram Lanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Burangrang. Dari pos 4 menuju puncak memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Di beberapa titik menuju puncak treknya landai namun di sisi sampingnya terdapat jurang yang dalam, berhati hatilah jika melintasi jalur ini. Dan akhirnya para pendaki tiba di puncak Gunung Burangrang. dari basecamp menuju puncak hanya memerlukan waktu sekitar 3 jam perjalanan. sumber gambar gugun_gunawan49 instagram Puncak gunung ini di tandai dengan tugu yang bewarna merah putih. Di atas puncak terdapat pemandangan Gunung Tangkuban Perahu dan tampak terlihat awan yang mengelilingi gunung. Puncak Burangrang ini hanya berupa tanah lapang seluas lapangan badminton. Tidak jauh dari tugu tersebut terdapat sebuah prasasti penanda batas wilayah Bandung Barat dengan Purwakarta. Puncak Gunung Burangrang terdapat juga jalur persimpangan Pasir Kuning. Jika ingin turun dari puncak arah kanan menuju jalur Pasir Kuning dan arah kiri menuju jalur Legok Haji. Di puncak terdapat area camp hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 3 menit untuk menuju area tersebut. Namun meskipun bisa untuk camp jalur menuju ke arah tersebut berkabut dan sangat riskan karena kanan dan kiri jalur terdapat jurang.
PengalamanPribadi Mendaki Gunung Burangrang Via Legok Haji. Gunung burangrang adalah salah satu gunung yang terletak di jawa barat yang sering menjadi tujuan para pendaki. Gunung yang terletak di perbatasan kota bandung, cimahi dan purwakarta ini mempunyai ketinggian 2064 MDPL. gunung burangrang sendiri memiliki 3 jalur pendakian yaitu jalur
Kawanlama dulu Pas SMA Gunung Burangrang sendiri setidaknya memiliki 4 Jalur. 1. Legok Haji 2. Pasir Kuning 3. Komando (Sudah Tutup Jalurnya) 4. Masjid (lupa namanya) sebelah Jalur Komando (Sudah Tutup Jalurnya). Ketika kami sampai basecamp kami diberitahu pihak BC Legok Haji bahwa untuk Jalur Komando dan Masjid sudah ditutup yaa.
Kalaujalur pendakian via Legok Haji menjadi yang tercepat, maka jalur via Pangheotan ini jadi yang paling lama. Meski begitu, pemandangan di jalur ini terkenal sangat indah. Lokasinya berada di Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Purwakarta. Waktu tempuh buat menuju puncak Burangrang melalui jalur ini bisa mencapai 5 jam atau lebih, cukup lama
TUTUP Jalur pendakian Gunung Rajabasa Lampung ditutup sementara untuk pendakian (tanggal 24 Desember 2021 sampai 2 Januari 2022). Update 30 Desember 2021. Gunung Rakutak. TUTUP. Gunung Rakutak saat ini telah masuk kategori kawasan Cagar Alam, sehingga yang diperbolehkan masuk hanya untuk tujuan riset dan konservasi.
kucQD. yu9m5m63nl.pages.dev/392yu9m5m63nl.pages.dev/437yu9m5m63nl.pages.dev/430yu9m5m63nl.pages.dev/286yu9m5m63nl.pages.dev/457yu9m5m63nl.pages.dev/81yu9m5m63nl.pages.dev/448yu9m5m63nl.pages.dev/267
gunung burangrang via legok haji